Sumpah Pemuda: Bukan Urusan Kosmetik Lemari Pakaian
Hari ini, 28 Oktober 2026, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-98. Tepat hampir seabad yang lalu, ketika Jakarta masih bernama Batavia dan belum ada urusan flexing di media sosial, sembilan kelompok pemuda berkumpul. Mereka tidak sedang nongkrong sore, melainkan menyepakati ikrar sakral: satu tumpah darah, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan—Indonesia. Sebuah cetak biru kemerdekaan yang lahir di tengah kepungan kolonial Belanda.
Lantas, bagaimana pemuda masa kini memperingatinya?
Satu hal yang menggelitik: tolong jangan kerdilkan hari bersejarah ini dengan kewajiban memakai blangkon seperti pada Hari Kartini atau baju koko saat Hari Santri, seolah-olah nasionalisme bisa dibeli di toko perlengkapan upacara.
Sungguh sebuah komedi jika kita mengira menghormati pahlawan cukup dengan meminjam baju adat setahun sekali, lalu merasa sudah sah menjadi juru selamat bangsa. Reduksi makna seperti ini membuat substansi sejarah menguap, menyisakan parade pakaian yang melupakan esensi gagasan besarnya.
Pemuda hari ini menghadapi medan tempur yang jauh lebih rumit daripada sekadar urusan kostum:
- Sumpah Jempol Netizen: Alih-alih bersatu, anak muda hari ini lebih sering terpecah di ruang digital. Energi habis untuk perang komentar antarpendukung influencer, keributan sekte gaya hidup, hingga polarisasi siber yang sumbunya sependek petasan korek. Ikrar "satu bangsa" seolah langsung luntur begitu jempol mulai mengetik makian.
- Gagap Bahasa Sendiri: Menjunjung bahasa persatuan bukan berarti menganggapnya sebagai bahasa kelas dua. Tengoklah hari ini, bahasa Indonesia seolah kehilangan kasta jika tidak dicampur istilah asing agar terdengar intelek. Kita fasih meniru bahasa luar, tapi bingung saat diminta menulis gagasan sendiri dengan tata bahasa yang benar dan bertenaga.
- Terjebak Lingkaran Setan Digital: Di tengah mimpi muluk menuju Indonesia Emas, realitasnya tidak sedikit pemuda yang frustrasi mencari kerja lalu tersesat ke dunia judi online dan pinjaman online. Menjadi pemuda yang menghargai sejarah berarti berani memutus rantai pembodohan instan ini, bukan malah menyerah dan menjadi korbannya.
- Nasionalisme Berotot, Bukan Citra: Nasionalisme itu bekerja nyata di bidangnya masing-masing. Pemuda yang memacul sawah dengan inovasi baru, programmer yang menciptakan sistem mandiri, atau mahasiswa yang kritis terhadap kebijakan publik—merekalah pemilik masa depan. Bukan mereka yang sibuk memoles feed Instagram agar terlihat paling peduli negeri.
Jadi, simpan dulu urusan kosmetik lemari pakaian itu. Yang kita butuhkan hari ini bukan pemuda yang sekadar pandai berdandan seremonial, melainkan mereka yang kepalanya berisi, hatinya jernih, dan tangannya mau turun tangan membenahi karut-marut bangsa. Selamat Hari Sumpah Pemuda!
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin