Habis Gelap Terbitlah ..... "Kebaya"
Hari ini, 21 April 2026, kita kembali mengetuk pintu sejarah. Syahdan, seorang ningrat dari Jepara bernama Raden Ajeng Kartini lahir untuk mengacak-acak kemapanan berpikir zaman kolonial. Kita menyebutnya Hari Kartini. Kita merayakannya sebagai hari emansipasi—sebuah istilah mentereng untuk gerakan membebaskan kaum hawa dari jeruji sosial-ekonomi yang pengap dan kungkungan hukum yang seringkali pilih kasih.
Namun, mari kita duduk sejenak sambil menyeruput kopi, sebelum terjebak dalam hiruk-pikuk seremoni.
Kartini itu pelopor, bukan sekadar model katalog busana. Beliau menuntut persamaan hak dalam pendidikan, pekerjaan, dan panggung publik. Tapi perhatikan urutannya: Kartini menaruh "Pendidikan" di baris paling depan. Beliau pernah menulis dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar (1899):
"Kami di sini memohonkan pendidikan dan pengajaran bagi anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya."
Kartini paham betul, sebelum seorang wanita menuntut kursi di jajaran direksi atau podium parlemen, ia harus punya isi kepala yang mumpuni. Emansipasi bagi Kartini bukan sekadar bagi-bagi jatah kursi agar terlihat adil di atas kertas. Ini soal value, soal martabat intelektual. Beliau ingin wanita dianggap pantas sejajar dengan pria karena kompetensinya.
Tengoklah caranya berjuang. Beliau tidak turun ke jalan dengan poster kosong. Kartini bergelut dengan literasi. Beliau berguru agama kepada Kyai Besar Mbah Soleh Darat untuk mencari hakikat Tuhan, berdialog lewat surat dengan kawan-kawannya untuk membuka cakrawala, dan turun tangan langsung memberi pengajaran bagi perempuan di sekitarnya. Senjatanya adalah pena dan pemikiran yang melampaui tembok pingitannya.
Tapi, entah sejak kapan dan karena bisikan siapa, hari ini perayaan emansipasi itu seringkali menyempit menjadi sekadar parade kebaya di ruang-ruang kantor. Seolah-olah, dengan memakai kain yang membelit langkah, ruh perjuangan Kartini otomatis meresap ke sanubari.
Kartini sendiri pernah berujar sinis tentang kekakuan adat dalam suratnya:
"Masa muda adalah masa yang indah... tapi bagi kami, masa itu adalah masa yang paling pedih. Kami dikurung di dalam rumah, terasing dari dunia luar."
Apakah setelah merdeka dari pingitan, kita justru memingit diri sendiri dalam simbol-simbol lahiriah saja?
Tentu, kebaya itu indah. Tapi apakah Kartini dulu berjuang habis-habisan hanya agar anak cucunya setahun sekali repot mencari persewaan baju tradisional demi absensi di lingkungan kerja?
Pendidikan adalah kunci, literasi adalah jalan. Mari kita peringati Kartini dengan semangat menambah kualitas diri. Sebab, seperti kata Kartini kepada Ny. Abendanon:
"Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi dengan keindahannya."
Pagi itu hanya akan datang jika kita melek literasi, bukan sekadar melek mode. Selamat Hari Kartini.
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin