Menelusuri Jejak Sejarah Watu Lintang: Saksi Bisu Saka Masjid Agung Demak yang Tertinggal
Di balik tenangnya aliran Sungai Tambra, tepatnya di Kedung Ula, sebelah selatan Jembatan Jenderal Gatot Subroto, terdapat sebuah batu besar yang dikenal masyarakat Desa Karangtengah sebagai Watu Lintang. Bagi mata awam, ia mungkin hanya bongkahan batu sungai biasa, namun bagi warga Karangtengah, batu ini adalah penjaga rahasia sejarah besar masa silam.
Mandat dari Walisanga
Kisah ini bermula pada masa kejayaan Kerajaan Demak. Kala itu, para Walisanga tengah membangun Masjid Agung Demak. Untuk melengkapi pilar-pilar utama, mereka meminta bantuan kepada seorang ulama sakti bernama Wali Perkasa (yang kini makamnya berada di Desa Pekiringan, Karangmoncol).
Wali Perkasa menyanggupi tugas mulia tersebut. Beliau berhasil menemukan batang kayu besar yang sangat berkualitas untuk dijadikan saka (tiang) masjid.
Proses Pengawetan di Kedung Ula
Agar kayu tersebut kuat dan tahan lama, Wali Perkasa menggunakan teknik alami dengan merendamnya di dalam air. Tempat yang dipilih adalah Kedung Ula. Agar kayu tidak hanyut terbawa arus Sungai Tambra, kayu besar tersebut ditindih dengan sebuah batu besar, yang kemudian dikenal sebagai Watu Lintang.
Kisah di Balik "Saka Tatal"
Namun, sebuah peristiwa unik terjadi. Ketika pembangunan Masjid Agung Demak sudah mencapai puncaknya, tiang dari Karangtengah ini tak kunjung tiba. Dikisahkan, Wali Perkasa saat itu sedang sibuk matun (membersihkan rumput di sawah) sehingga urung mengirimkan kayu tersebut tepat waktu.
Karena kebutuhan mendesak, posisi tiang yang seharusnya diisi oleh kayu dari Wali Perkasa akhirnya digantikan oleh Saka Tatal (tiang dari potongan-potongan kayu) karya Sunan Kalijaga.
Akhir Sang Saka
Kayu besar itu pun tetap tertinggal di dasar Kedung Ula, terhimpit di bawah Watu Lintang selama bertahun-tahun. Konon, berpuluh-puluh tahun kemudian saat musim kemarau panjang melanda dan debit air menyusut drastis, kayu tersebut muncul ke permukaan. Oleh penduduk setempat yang tidak mengetahui sejarahnya saat itu, kayu legendaris tersebut akhirnya dimanfaatkan sebagai kayu bakar.
Kini, hanya Watu Lintang yang tersisa di tengah Sungai Tambra, berdiri kokoh sebagai pengingat akan besarnya pengabdian masa lalu dan kaitan erat Desa Karangtengah dengan sejarah syiar Islam di tanah Jawa.
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin